Rabu, 16 Desember 2009
Faktor Kimai Yang Mempengaruhi Kualitas Produk Hortikultura
Kualitas produk hortikultura baik buah ataupun sayuran banyak ditentukan oleh faktor genetis, senyawa kimia yang dikandung didalamnya, kondisi fisik, atau teknologi. Atribut kualitas produk hortikultura tersebut harus sesuai dengan standart kualitas yang ditentukan pasar.
Senyawa Kimia
1. Buah :
a. rasa
Perkembangan citarasa enak untuk buah-buahan antara lain berkaitan dengan penurunan derajat keasaman dan peningkatan kandungan gula. Perbandingan gula dan asam sering digunakan sebagai indeks tingkat kematangan pada banyak buah-buahan (Tranggono dan Sutardi, 1989).
Beberapa senyawa kimia yang terdapat dalam buah yang mempengaruhi rasa buah, seperti
- rasa manis yang disebabkan adanya senyawa monosakarida, disakarida polysakarida/kadar tepung yang tersusun dari berbagai senyawa gula (fruktosa, glukosa, sorbitol)
- rasa asam yang disebabkan adanya senyawa sitrat (ascorbic acid)
- rasa pahit yang disebabkan senyawa tannin
- rasa sepat yang disebabkan senyawa atsiri, tanin dan fenolat (umumnya pada buah mentah).
Hilangnya rasa sepat selama proses pematangan adalah akibat perubahannya kebentuk yang tidak larut. Selama perkembangan buah-buahan terjadi polimerisasi monomer tanin sehingga buah yang masih muda mengandung senyawa flavonol dengan berat molekul yang lebih rendah daripada buah matang (Tranggono dan Sutardi, 1989).
Di Indonesia, buah kesemek memiliki rasa sepet (jenis sepet) karena mengandung minyak atsiri, berbeda dengan buah kesemek yang terdapat di Cina, Taiwan, dan Jepang yang tidak sepat (jenis tidak sepet)
b. Aroma (ester, volatile)
Pada kulit jeruk mengeluarkan minyak atsiri à bau khas
Beberapa komponen aroma pada buah
Produk Komponen
Apel masak
Hijau Ethyl 2-methylbutyrate
Hexanal, 2 – hexenal
Pisang hijau
Masak
sangat masak 2-hexanal
Eugenol
Isopentanol
Anggur Nooctatone
Lemon Citral
Orange Valencene
Raspberry 1-p-hidroksiphenyl-3-butanone
c. Daging buah
Daging buah banyak mengandung serat dimana bila buah masak bisa berubah dan terdegradasi, terutama untuk jus. Pada daging buah terdapat gula terlarut dan serat, serat diperlukan untuk pencernaan kita, terutama untuk mencerna lemak, sebaliknya lemak diperlukan untuk mendegradasi serat. Semakin banyak serat yang terdegradasi maka makin banyak membutuhkan lemak, karena energi tinggi berasal dari lemak.Dampak sama untuk lemak hewani dan nabati, untuk lemak hewani buah (serat) akan mencegah kolesterol dan akumulasi trigliserida sedang untuk lemak nabati mencegah terjadinya pengumpulan trigliserida, penyakit vertigo. Kualitas buah jeruk, mangga, pepaya, pisang banyak ditentukan oleh kualitas daging buahnya.
d. Komposisi karbohidrat
Komposisi karbohidrat yang terdapat dalam buah akan mempegaruhi kualitas buah. Komposisi senyawa karbohidrat pada buah, apakah senyawa amylum (pati ), fruktosa, sukrosa, glukosa akan menentukan komposisi karbohidrat. Buah yang paling manis, adalah yang besar kandungan gula fruktosanya (monosakarida), pada madu sebagian besar penyusun karbohidratnya adalah fruktosa.
Kandungan serat yang terdapat pada buah terdiri dari selulosa, hemiselulosa (tersusun atas glukosa), polisakarida (rantai panjang dari glukosa).
Amylum berupa pati (apel, pisang, mangga, pepaya, kesemek). Berapa persen perbandingan komposisi antara amylum dengan polisakarida dan monosakarida akan menentukan kualitas buah
Senyawa pektin terdapat pada pepaya
Rasa manis biasanya dikaitkan dengan kadar gula. Semua kadar terlarut diukur dengan Brix (xo), semakin tinggi derajat brix maka semakin manis. Misal : pisang yang baik untuk jus punya >21oBrix, pepaya >13o brix dan di Indonesia belum bisa mencapai kadar brix tersebut, sehingga sulit untuk diexport karena belum memenuhi persyaratan (standard).
Rasa manis dan asam dikombinasikan sehingga jadi mutu, dilihat berapa rasio manis dan rasio asam. Manggis disukai di international tapi belum diukur rasa manis (belum ada penelitian) dan diketahui standrat nasional à peluang ekspor
e. Warna
Buah-buahan kita mempunyai warna yang kurang menarik untuk konsumen luar negeri. di Philipina terdapat mangga podang yang diberi nama mangga karapau dan sudah diekspor ke Jepang, AS, Eropa. Hal ini membuka peluang ekspor bagi Indonesia untuk ekspor mangga podang. Warna buah merupakan atribut kualitas yang menentukan tingkat penerimaan konsumen.
Terdapat beberapa senyawa yang memberikan warna buah, yaitu
- warna ungu disebabkan adanya kandungan antosianin (manggis, anggur)
- kuning disebabkan kandungan karoten (pepaya, mangga podang)
- hijau karena adanya khlorofil.
Dalam satu buah dapat tersusun berpuluh-puluh senyawa kimia yang menentukan kualitas buah, misal : Pada 1 buah mangga bisa terdapat senyawa kimia yang bertanggungjawab terhadap rasa asam, manis, sepet, pahit, aroma, kekerasan kulit, komposisi daging, kadar serat/pektin.
2. Sayur
a. Kadar serat
Banyak sayuran yang mengandung serat yang tinggi, contoh : ercis punya kadar serat tinggi.
Kadar serat dapat diketahui secara manual dengan disaring dan diukur kadar %.
b. Aroma
Beberapa senyawa kimia yang terdapat dalam sayur yang memberikan aroma tertentu pada sayuran tersebut. Misal kubis mengandung dimetil sulfida (DMS), H2S, yang menimbulkan aroma pesing dari famili clusifiri (bambu). Yang baik adalah yang kandungan DMSnya rendah. Kemangi, berambang mengandung senyawa atsiri.
Sayuran ada yang mempunyai kadar senyawa aromatik rendah dan tinggi dan mana yang lebih diperlukan sangat tergantung yang disenangi/pasar
c. Rasa
Pedas (cabe, jahe, lada)
Manis (jagung, kentang)
Pahit (pare, daun pepaya)
d. Warna
Anthocyaninàterong ungu, ubi ungu, buah ungu
Merupakan senyawa antioxidant, antioxidant adalah senyawa yang menghindari oksidasi yang mengakibatkan terjadi proses penuaan (scenesense)
Klorofil terdegradasi berubah jadi karoten, xantofil pada sayur
Karoten à wortel
3. Bunga
a. Odor (bau), aroma, fragrance(wangi-wangian)
Berapa lama menentukan kesegaran hal ini yang akan
menentukan kualitas bunga dan harga
b. Warna berpengaruh pada perkawinan dan rumah tangga. Hindari yang mempunyai sinar kosmik tinggi.
Melati punya gelombang ketenangan dan daya tarik kebahagiaan.
Hijau tidak mempunyai radiasi + dan – sehingga netral
Anggrek bulan putih baik
c. Kesegaran
Semua hasil-hasil yang terdapat atau terkandung dalam produk hortikultura, yang telah di jelaskan di atas tidak serta merta tercipta tanpa adanya beberapa penunjang atau faktor-faktor pendukung yang merubah hasil produk hortikultura menjadi hasil yang berkualitas tinggi.
Ada beberapa faktor yang menunjang pertumbuhan produk hortikultura, khususnya di bidang kimiawi, sebagai contoh saja seperti pupuk organik, zat pengatur tumbuh, dan beberapa mikroorganisme pendukung yang akan merubah produk hortikultura menjadi hasil yang berkualitas tinggi dan sehat bagi konsumen.
Pupuk dan mikroorganime pendukung lainnya
Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi tanaman. Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya; nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik. Bila C-organik rendah dan tidak masuk dalam ketentuan pupuk organik maka diklasifikasikan sebagai pembenah tanah organik. Pembenah tanah atau soil ameliorant menurut SK Mentan adalah bahan-bahan sintesis atau alami, organik atau mineral. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota. Kompos merupakan produk pembusukan dari limbah tanaman dan hewan hasil perombakan oleh fungi, aktinomiset, dan cacing tanah. Pupuk hijau merupakan keseluruhan tanaman hijau maupun hanya bagian dari tanaman seperti sisa batang dan tunggul akar setelah bagian atas tanaman yang hijau digunakan sebagai pakan ternak. Sebagai contoh pupuk hijau ini adalah sisa–sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air Azolla. Pupuk kandang merupakan kotoran ternak. Limbah ternak merupakan limbah dari rumah potong berupa tulang-tulang, darah, dan sebagainya. Limbah industri yang menggunakan bahan pertanian merupakan limbah berasal dari limbah pabrik gula, limbah pengolahan kelapa sawit, penggilingan padi, limbah bumbu masak, dan sebagainya. Limbah kota yang dapat menjadi kompos berupa sampah kota yang berasal dari tanaman, setelah dipisah dari bahan-bahan yang tidak dapat dirombak misalnya plastik, kertas, botol, dan kertas. Istilah pupuk hayati digunakan sebagai nama kolektif untuk semua kelompok fungsional mikroba tanah yang dapat berfungsi sebagai penyedia hara dalam tanah, sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Pemakaian istilah ini relatif baru dibandingkan dengan saat penggunaan salah satu jenis pupuk hayati komersial pertama di dunia yaitu inokulan Rhizobium yang sudah lebih dari 100 tahun yang lalu. Pupuk hayati dalam buku ini dapat didefinisikan sebagai inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan mikoriza arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh fungi, aktinomiset atau cacing tanah. Penyediaan hara ini berlangsung melalui hubungan simbiotis atau nonsimbiotis. Secara simbiosis berlangsung dengan kelompok tanaman tertentu atau dengan kebanyakan tanaman, sedangkan nonsimbiotis berlangsung melalui penyerapan hara hasil pelarutan oleh kelompok mikroba pelarut fosfat, dan hasil perombakan bahan organik oleh kelompok organisme perombak. Kelompok mikroba simbiotis ini terutama meliputi bakteri bintil akar dan cendawan mikoriza. Penambatan N2 secara simbiotis dengan tanaman
kehutanan yang bukan legum oleh aktinomisetes genus Frankia di luar cakupan buku ini. Kelompok cendawan mikoriza yang tergolong ektomikoriza juga di luar cakupan baku ini, karena kelompok ini hanya bersimbiosis dengan berbagai tanaman kehutanan. Kelompok endomikoriza yang akan dicakup dalam buku ini juga hanya cendawan mikoriza vesikulerabuskuler, yang banyak mengkolonisasi tanaman-tanaman pertanian. Kelompok organisme perombak bahan organik tidak hanya mikrofauna tetapi ada juga makrofauna (cacing tanah). Pembuatan vermikompos melibatkan cacing tanah untuk merombak berbagai limbah seperti limbah pertanian, limbah dapur, limbah pasar, limbah ternak, dan limbah industri yang berbasis pertanian. Kelompok organisme perombak ini dikelompokkan sebagai bioaktivator perombak bahan organik. Sejumlah bakteri penyedia hara yang hidup pada rhizosfir akar (rhizobakteri) disebut sebagai rhizobakteri pemacu tanaman (plant growthpromoting rhizobacteria=PGPR). Kelompok ini mempunyai peranan ganda di samping (1) menambat N2, juga; (2) menghasilkan hormon tumbuh (seperti IAA, giberelin, sitokinin, etilen, dan lain-lain); (3) menekan penyakit tanaman asal tanah dengan memproduksi siderofor glukanase, kitinase, sianida; dan (4) melarutkan P dan hara lainnya (Cattelan et al., 1999; Glick et al., 1995; Kloepper, 1993; Kloepper et al., 1991). Sebenarnya tidak hanya kelompok ini yang memiliki peranan ganda (multifungsi) tetapi juga kelompok mikroba lain seperti cendawan mikoriza. Cendawan ini selain dapat meningkatkan serapan hara, juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit terbawa tanah, meningkatkan toleransi tanaman terhadap kekeringan, menstabilkan agregat tanah, dan sebagainya, tetapi berdasarkan hasil-hasil penelitian yang ada peranan sebagai penyedia hara lebih menonjol daripada peranan-peranan lain. Pertanyaan yang mungkin timbul ialah apakah multifungsi suatu mikroba tertentu apabila digunakan sebagai inokulan dapat terjadi secara bersamaan, sehingga tanaman yang diinokulasi dapat memperoleh manfaat multifungsi mikroba tersebut. Kebanyakan kesimpulan tersebut berasal dari penelitian-penelitian terpisah, misalnya pengaruh terhadap serapan hara pada suatu percobaan, dan pengaruh terhadap toleransi kekeringan pada percobaan lain. Mungkin sekali fungsi-fungsi tersebut hanya dimiliki spesies tertentu pada suatu kelompok fungsional tertentu, atau mungkin juga fungsi-fungsi ini hanya dimiliki oleh strain atau strain-strain tertentu dalam suatu spesies, atau kondisi lingkungan dimana tanaman tersebut tumbuh. Subha Rao (1982) menganggap sebenarnya pemakaian inokulan mikroba lebih tepat dari istilah pupuk hayati. Ia sendiri mendefinisikan pupuk hayati sebagai preparasi yang mengandung sel-sel dari strain-strain efektif mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat atau selulolitik yang digunakan pada biji, tanah atau tempat pengomposan dengan tujuan meningkatkan jumlah mikroba tersebut dan mempercepat proses mikrobial tertentu untuk menambah banyak ketersediaan hara dalam bentuk tersedia yang dapat diasimilasi tanaman. FNCA Biofertilizer Project Group (2006) mengusulkan definisi pupuk hayati sebagai substans yang mengandung mikroorganisme hidup yang mengkolonisasi rizosfir atau bagian dalam tanaman dan memacu pertumbuhan dengan jalan meningkatkan pasokan ketersediaan hara primer dan/atau stimulus pertumbuhan tanaman target, bila dipakai pada benih, permukaan tanaman, atau tanah. Pengertian pupuk hayati pada buku ini lebih luas daripada istilah yang dikemukakan oleh Subha Rao (1982) dan FNCA Biofertilizer Project Group (2006). Mereka hanya membatasi istilah pupuk hayati pada mikroba, sedangkan istilah yang dipakai pada buku ini selain melibatkan mikroba juga makrofauna seperti cacing tanah. Bila inokulan hanya mengandung pupuk hayati mikroba, inokulan tersebut dapat juga disebut pupuk mikroba (microbial fertilizer) Mikroorganisme dalam pupuk mikroba yang digunakan dalam bentuk inokulan dapat mengandung hanya satu strain tertentu atau monostrain tetapi dapat pula mengandung lebih dari satu strain atau multistrain. Strain-strain pada inokulan multistrain dapat berasal dari satu kelompok inokulasi silang (cross-inoculation) atau lebih. Pada mulanya hanya dikenal inokulan yang hanya mengandung satu kelompok fungsional mikroba (pupuk hayati tunggal), tetapi perkembangan teknologi inokulan telah memungkinkan memproduksi inokulan yang mengandung lebih dari
satu kelompok fungsional mikroba. Inokulan-inokulan komersial saat ini mengandung lebih dari suatu spesies atau lebih dari satu kelompok fungsional mikroba. Karena itu Simanungkalit dan Saraswati (1993) memperkenalkan istilah pupuk hayati majemuk untuk pertama kali bagi pupuk hayati yang mengandung lebih dari satu kelompok fungsional.
Senin, 13 April 2009
Di jaman yang serba modern dan canggih ini, banyak sekali sarjana S1 yang menjadi pengangguran atau belum dapat pekerjaan tetap, mungkin kalau ditelusuri, berapa orang sarjana S1 yang belum dapat pekerjaan tetap? Mungkin sudah ribuan sarjana S1 yang sampai sekarang belum mempunyai pekerjaan yang tetap. Di jaman sekarang susah sekali untuk mencari satu aja pekerjaan yang bisa menjamin kehidupan kita menjadi lebih baik, apalagi sekarag . Apalagi ijasah yang kita miliki hanya sampai SMA saja, sedangkan di perusahaan-perusahaan besar dan di kota-kota besar mempunyai standart penerimaan pegawai yang lumayan membikin kewalahan bagi kita-kita yang hanya memiliki ijasah sampai SMA. Jika ada yang menanyakan pekerjaan apa yang tidak membutuhkan persyaratan yang serumit di perusahaan-perusahan besar, dan kerjanya tidak memerlukan keahlian yang khusus? Jawabannya adalah di UNICORE.
Sebelumnya saya mempunyai sebuah pertanyaan yang harus anda jawab dan anda pikirkan mulai sekarang.
APA PRIORITAS UTAMA ANDA DALAM HIDUP ANDA?
1. MEMILIKI USAHA SENDIRI
2. PENGHASILAN YANG LEBIH BESAR
3. MEMBAHAGIAKAN ORANG TUA
4. MEMILIKI RUMAH DAN MOBIL BARU
5. JALAN-JALAN KE LUAR NEGERI
6. MENJALANI MASA PENSIUN DENGAN TENANG
7. BEBAS UANG DAN WAKTU
8. PENDIDIKAN ANAK
9. PENGEMBANGAN DIRI
10. MEMBANTU ORANG LAIN / KEGIATAN SOSIAL
Setelah anda telah menjawab dan memikirkan apa yang telah anda inginkan dalam hidup anda, saya akan menjelaskan PARADIGMA SECARA UMUM ORANG BEKERJA.
PARADIGMA SECARA UMUM
ORANG KERJA PASTI INGIN MENDAPATKAN PENGHASILAN, SETELAH MENDAPATKAN PENGHASILAN KITA PASTI PUNYA RENCANA MASA DEPAN
JIKA SUATU WAKTU KEADAAN TERBALIK,
DAN RENCANA UNTUK MASA DEPAN AKAN PUPUS DI TENGAH JALAN
TAPI
JIKA ANDA INGIN HIDUP SUKSES DENGAN USAHA ANDA SENDIRI, INI CARANYA:
KITA KERJA UNTUK MEMBANGUN ASET
OTOMATIS ANDA MENDAPATKAN PENGHASILAN
RENCANA MASA DEPAN PASTI TERJAMIN
KITA TIDAK KERJAPUN ASET TETAP JALAN
DAN RENCANA MASA DEPANPUN TERJAMIN
Dalam membangun aset ada 3 sistem bisnis :
1. Perusahaan bersistem (Konvensional)
2. Bisnis Waralaba (Franchise)
3. Waralaba Pribadi (Personal Franchise)
Unicore (United Core Vision) adalah sebuah organisasi pendukung yang menyediakan system yang telah teruji dan terbukti keberhasilannya untuk membangun aset berupa jaringan yang terus berkembang.
Unicore menyediakan alat-alat bantu yang terintegrasi dengan program-program pelatihan, dari tingkat dasar hingga tingkat kepemimpinan, untik mengembangkan kepribadian dan karakter anggotanya.
Unicore memiliki kurikulum agar anda bisa memiliki asset yang kuat, anda disarankan untuk mengikuti kurikulum Unicore berikut ini:
- core version
- core leader
- excel
